Kabar
05 Desember 2021
Hari ini, kembali lagi aku mendengar kabar duka dari seorang gadis cantik yang sangat kuat telah berpulang ke rumah Allah.
Masih pada bulan ini, tepatnya pada tanggal 5 desember, gadis seumuran dengan aku, juga berpulang. Mereka berdua sangat-sangat baik, walaupun aku sama sekali tidak mengenalinya. MasyaAllah.
Mereka memiliki aura yang bisa memberikan kehangatan disekelilinginya, tidak secara langsung pun. Kisah hidup mereka, bisa dikatakan hampir menyerupai. Bukan. Sepertinya sangat sama "Meminta Keadilan".
Entah kenapa, keadilan saat ini hanya seperti langit. Terlihat tapi tidak terasa. Bahkan diilustrasikan seperti langit pun, tidak cocok sama sekali, karena langit itu sangat indah.
Bukankah seharusnya keadilan itu indah?
Mungkin "mereka" hanya menggunakan kata "Seharusnya" bukan "Harus", sehingga keindahan itu tidak dapat disentuh, barang sedikit pun.
Dua kisah yang sama-sama memperjuangkan hak, memiliki jalan yang berbeda.
Dia, sang bidadari, mendapatkan hak seusai semua lirik yang ia tulis, dibaca oleh para insan, setelah dia tiada. Setelah dia tiada. Artinya, keadilan yang diperjuangkan seorang diri tidak memberikan hasil dan dia mengorbankan dirinya. Dia korban. Dibaca oleh para insan? Setelah semua tulisannya terkuak dan beribu manusia meminta keadilan untuk bidadari kecil ini, keadilan baru merangkak.
Menyedihkan. Sungguh menyakitkan.
Apakah keadilan yang diperoleh sudah adil? Aku tidak dapat mengatakan dengan sepenuhnya jika itu adil, karena berita lainnya tidak menunjukkan hal itu.
Lalu, hari ini.
MasyaAllah.
Jujur, mengenai kasus sang peri, aku tidak mengikuti sedari awal. Sosial mediaku bersilewaran mengenai podcast salah seorang peri kecil. Dia bercerita. Mengeluarkan apa yang ingin disampaikan dan didengarkan. Tubuh lemah yang aku yakin, dia sudah berusaha sekuat mungkin agar tetap kuat. Tak dapat membohongi, betapa rapuhnya dia.
Sebentar. Aku ingin menyampaikan satu pernyataan ini. Mereka adalah korban dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Lelaki yang menyayangi serta meruntuhkan mereka.
Sang peri kecil berusaha terbang dengan sayap mungil, meminta sedikit madu yang dapat membuat manis kehidupan. Tuhan mengabulkannya.
Kau tahu, tak selang berapa dari itu, Tuhan memberikan hadiah kepada dirinya. Menggantikan sayap mungil ini menjadi sayap yang lebih besar, hingga ia bisa terbang ke surga-Nya.
MasyaAllah. Allah memberikan dia kesempatan untuk memperoleh keadilan dan Ia pergi dengan damai.
Hai Bidadari dan Sang Peri Kecil, apakah kalian sudah bertemu? Kuharap, kalian bisa berpelukan saat ini. Meminum minuman kesukaan kalian. Red velvet dan apa? Maafkan aku yang tidak mengetahui minuman kesukaan peri kecil.
Kalian memberikan aku arti "Orang yang mengasihimu, suatu saat menjadi Bencana bagimu". Kurasa bukan aku saja yang merasakannya. Tapi mereka yang mendengar hal ini, ada kemungkinan sependapat.
Bahagia disana, bidadari dan Peri kecil. Kalian sudah bebas.
Komentar
Posting Komentar